Beautiful Target II: Salah Nomor Jong

Day 1: Switch!

Pagi itu cukup cerah, dihiasi dengan beberapa awan tipis yang menggantung di langit berwarna biru. Pelajaran Sejarah Baekhyun sudah selesai, dan ia sedang berjalan menuju kelas berikutnya—Bahasa Korea—ketika Jongin datang tergopoh-gopoh ke arahnya, tangan kanannya memegang sebuah HP.

“Ada apa Jong?” tanya Baekhyun, mengamati penampilan Jongin dari atas ke bawah. Lebih berantakan dari biasanya.

Jongin menstabilkan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan temannya itu. “Gue sms nomor lu dari kemarin enggak pernah sampai. Lu ganti nomor ya?”

HP Baekhyun baik-baik saja dan ia tak ganti nomor. Tapi memang dari beberapa hari yang lalu ia sengaja mengacuhkan sms serta mem-blok nomor Jongin dari HP-nya. Ini adalah salah satu rencana Wufan untuk mencomblangi Jongin dengan Sehun. Kalau yang lain—atau rencana mainstream, kata Zitaoakan menyelipkan nomor sang pujaan hati ke loker target, Wufan malah memberinya aksi tipuan ini. Yeah, Wufan memang jenius.Dia punya kans besar untuk menjadi tukang tipu di masa depan.  

Sekian. Kembali ke percakapan Jongin dan Baekhyun.

“Err… Ya bisa dibilang begitu. HP gue juga rusak sih, dan sekarang pakai HP nyokap gue.” kata Baekhyun, sebisa mungkin tidak menunjukkan kalau ia bohong. “Lagipula gue risih tiap hari dapat sms dari oom-oom gaje…”

Jongin melemparnya pandangan simpatik. “Sabar ya, memang kalau pakai operator XS sering dapat sms gaje.” kata Jongin sambil tersenyum yang seolah meneriakkan anjir-kasian-banget-lo-Baek-jadi-incaran-oom-oom-awas-nanti-diperkosa-terus-kena-AIDS. “Oh ya, nomor lu yang sekarang  berapa?” tanyanya lalu mengeluarkan HP, siap mencatat.

Beh. Kena lu Jong!

“Gue langsung ketik di HP lu enggak apa? Gue lupa bawa HP-nya, tapi gue inget kok nomornya!”

“Oke.”

Dengan senyum yang lebih mencurigakan dari Jongdae si troll sekolah, Baekhyun mengetikkan nomor Sehun—yang untungnya ia ingat dengan sepenuh hati—menyimpannya dengan nama ‘Bacon’ lalu mengembalikannya ke tangan Jongin dengan cengiran setan.

“Thanks bro!” ucap Jongin lalu berbalik dan berlari ke arah ia datang.

“Yeah, sama-sama!”  balas Baekhyun sambil melambai girang, cengiran setan itu masih tertempel di wajahnya.

***

Sekolah telah usai 2 jam yang lalu, tetapi Jongin masih di sekolah, melempari kolam sekolah yang kosong melompong dengan batu karena bosan dan tak tahu harus apa hingga seorang satpam menemukannya dan menyuruhnya untuk pulang.

Jongin pulang tanpa cingcong sama sekali.

Sesampainya di kamar, Jongin melempar tas dan dirinya ke atas kasur. Ia baru menyadari betapa capeknya dirinya ketika tubuhnya berada di atas kasur, tetapi ia tak ingin tidur. Well, tidak untung sekarang. Lalu matanya tertumbuk pada sebuah kardus berukuran sedang dengan stiker berlabel ‘X’ besar dan tulisan ‘DANGEROUS. DO NOT DISTURB’ di bawahnya tertulis dalam warna merah diujung kamar. Tiba-tiba sebuah ide muncul dari kepalanya. Ia mengeluarkan HP-nya dan meng-sms Baekhyun.

 From: Kkamjong

To: Bacon

Oi Baek, gue ada koleksi baru sih. Lo pengen? Ambil di rumah gue yak :p Mantep banget. Cewek-ceweknya seksoy semua, ada yg lesb juga!11

Tak berapa lama kemudian ada sms baru yang masuk ke HP-nya.

 

From: Bacon

To: Kkamjong

Er, maaf tapi ini siapa?

 

From: Kkamjong

To: Bacon

Astaga… Ini gue, Jongin! Ini bener kan nomor Baek? Byun Baekhyun?

 

From: Bacon

To: Kkamjong

Baekhyun? Gue Sehun… Salah nomor lu.

 

 From: Kkamjong

To: Bacon

Sehun—Oh Sehun?

 

From: Sehunah

To: Kkamjong

Emang ada orang lain namanya Sehun selain gue? Gue enggak nyangka lu tahu nomor gue, dan anehnya nomor lu ada di HP gue. Ini pasti kerjaannya Baekhyun. Tau ga gue kira Kkamjong itu tukang servis WC, ternyata lu Jongin. Hampir aja gue nelpon lu untuk perbaiki WC gue tau ga? Tapi untungnya ga jadi sih.

 

From: Kkamjong

To: Sehunah

Tukang servis WC

 

 

 

Wat.

 

From: Kkamjong

To: Sehunah

APAH.

 

From: Kkamjong

To: Sehunah

HANJEEEEERRR BACON KAMPRET GUE GORENG LO BESOK AANSDDSNKNDKNKJANJK AAAAAAAAAAA!!!!1111

 

From: Sehunah

To: Kkamjong

… //pukpukJongin 

***

 

A/N: Gue pernah bilang ini twoshot ya? Yah ada perubahan rencana, dan kayanya ini bakal meleber jadi… maks 10 chapter? :/ dan oh ya maaf banget update-nya lama. School is killing me. SMA memang kejam, apalagi kalau dirimu masih kelas 1. Sigh.

Anyway, terimakasih untuk yang sudah review fic aneh ini. Maaf ga gue balas satu-satu, tapi gue baca semua review kalian semua, dan itu berarti banget buat gue ^^ -lempar cinta, coklat, dan Jongin ke pembaca-. Chapter 2 bakal up minggu depan. 

Advertisements

Beautiful Target

Disclaimer: Lagu Beautiful Target memang dinyanyikan B1A4 tapi lisensi punya WM Ent. EXO sedihnya punya SM, kalau punya gue mereka bakal jadi stripper/butler host club bukan boyband /disambit.

Warning: Bahasa non-baku, penggunaan gue-elo. Cuma untuk anak gaul berumur 13 tahun keatas /sok. BL. Sekai ft Taoris. Semua anak EXO disini SMA.


Continue reading

4. D for Duh

D for Duh


Kyuhyun terbangun dengan leher sakit. Dan bingung. Ia tak ingat kamarnya memiliki langit-langit setinggi dan suhu sedingin ini. Ia mengucek-ngucek matanya dan sebuah realisasi menghantam otaknya yang masih setengah tersadar dari tidur ayamnya: ia berada di bandara dengan Siwon, dan mereka sedang menunggu pesawat yang rasanya tak kunjung datang.

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruang tunggu itu lebih ramai dari sebelumnya. Pria-wanita berbaju resmi sok sibuk itu masih ada namun ia tidak dapat menemukan rombongan keluarga asing itu. Apakah mereka sudah berangkat?

Continue reading

Curahan Seorang Penulis Amatir

Well, pasti udah taulah ya kalau gue nggak cuma nulis di sini tpai juga di FFn dibawah nama pena Andictator. Dan kemaren gue post fic gue yg The Thing About Love di FFn. Pembaca nggak begitu antusias dengan fanfiksi itu. Gue sih cuma batin, ‘ya sudahlah, mungkin pembaca lebih seneng fanfiksi yang ringan’.Mereka lebih antusias dengan Backpack yang notabene humornya agak sadis. Nggak, sadis banget malah. Kyu-nya gue buat kurang ajar banget disitu hahaha tapi emang aslinya Kyu udah kurang ajar kan? 

Sebenernya gue udah punya unek-unek ini sejak gue mulai menulis (kelas 5 SD). Awalnya gue tipe penulis yang cuma ingin review banyak, tapi itu perlahan-lahan berubah. Gue semakin tua, dan gue semakin menyadari bahwa inti dari menulis adalah bersenang-senang dan memperbaiki tulisan agar lebih baik lagi. Pujian itu hanya bonus namun kritik yang kontruktif adalah harus. 

Gue mempublish fanfiksi gue ke internet karena daripada dibiarkan membusuk di laptop ya mending dipublish kan biar ada orang yang baca? Ya, syukur-syukur kalau ada yang baca, lebih bersyukur lagi kalau ada yang ngasih pujian dan tak sabar menunggu kelanjutannya. Tapi gue akan lebih bersyukur lagi kalau ada orang yang mau memberi kritik konstruktif

Gue sadar fanfiksi gue tidak sempurna. Jauh dari kata itu malah. Makanya gue mempublish fanfiksi itu agar ada yang memberi kritik, supaya gue bisa jadi lebih baik lagi agar kalian tidak kecewa dengan tulisan gue. Tapi yah, dasar manusia Indonesia, senangnya berbasa-basi. Gue jarang dapat kritik konstruktif, kebanyakan pujian atau sekedar kata ‘lanjut’. Atau ada juga yang komplain. Oke, gue terima semuanya. Dengan lapang dada dan tanpa dendam. 

Tapi meskipun begitu tolong dicatat bahwa ‘komplain’ dengan ‘kritik konstruktif’ adalah sesuatu yang berbeda. Komplain adalah ketika lu memberi komentar dengan nada negatif tanpa memberikan solusi. Sedangkan kritik konstruktif adalah ketika lu menunjukkan kesalahan gue dan memberi tahu gue bagaimana cara membenahinya aka solusi. See? Mereka beda. Gue nggak cuma butuh komplain lu, tapi juga solusi lu. Lu mungkin berpikir fanfiksi gue tidak begitu bagus lalu lu komplain. Lu enggak memberi gue solusi untuk berbenah, tapi gue tetap harus berterimakasih ke lu karena lu udah memberitahu gue kesalahan gue. 

Ini cuma keluhan biasa. Ga usah dibawa ke hati. Gue sayang kalian semua, pembaca gue. Gue memang terkadang kurang ajar dengan membiarkan fanfiksi gue tanpa dilanjutkan sampai selesai. Ya, kurang ajar banget, tapi penulis tetap manusia kan? Punya malas dan punya hati :p 

Udah ah, cari inspirasi dulu. Siapa tau gue besok ngupdate Backpack wakakakak

The Thing About Us


Betulkah cinta tidak mengenal gender? Tapi mengapa dunia memandang kami jijik setiap saat aku mengaitkan jemariku dengannya?

Super Junior © diri mereka sendiri, SM

EXO © diri mereka sendiri, SM

Gue tidak punya apa-apa kecuali fanfiksi dan laptop yang dipakai untuk membuat ini.

Didekasikan kepada semua pembaca fic ahjussi tersayang yang tak dapat disebutkan satu-satu.

Ai lab yuuuu all puuuul :-*

Continue reading

B for Backpack

B for Backpack.


Ia mendesah panjang. Memang mereka berdua berhasil menemukan petanya, namun alih-alih memasang senyum sumringah, ia malah menekuk alisnya dan manyun. Diangkat dan digoyang-goyangkannya petanya ke udara. Bau bangkai dan darah yang mengering tercium begitu menusuk di hidungnya. Ia menjepit hidungnya dengan jempol dan telunjuk kirinya, sementara tangannya yang kanan menjauhkan benda itu dari hidungnya.

Matanya beralih dari peta bau bangkai tersebut ke seorang pemuda berumur 19 tahun yang sedang menggigiti bibirnya dengan gugup. Tangan pemuda itu meremas kemeja putih yang ia kenakan, dan matanya diarahkan ke sembarang arah selain arahnya. Jelas sekali kalau ia bersalah.

Ia melarikan jemarinya yang panjang menuju rambut hitam pendeknya yang sudah berantakan dan mendesah lagi, kata frustasi tertulis jelas di dahinya. “Kupikir kau benar-benar membuangnya Kyuhyun, tapi ternyata…” Ia memutuskan kalimat itu dan kembali memandang pemuda yang lebih muda itu dengan tatapan tajam.

Pemuda itu balik memandang dengan sama tajam. Kegugupan dan rasa bersalah yang ia tunjukkan tadi menguap dengan kata-kata tajam yang ia muntahkan. “Aku tak menyuruhmu mencari di tong sampah. Jelas-jelas yang kuucapkan tadi hanya sarkasme belaka, Choi, kenapa kau menganggapnya serius?”

Giliran giginya yang berderit. “Candaanmu tidak lucu, dan jangan panggil aku Choi. Aku punya nama tahu.”

“Psh, psh, terserah apa katamu Kuda. Petamu sudah ketemu kan? Aku mau tidur.” Dengan itu Kyuhyun berjalan dari posisinya ke tempat tidurnya. Namun baru satu langkah ia berjalan, Siwon sudah menggaet lengannya. “Apa-apaan—”

“Kau harus bertanggung jawab atas peta ini Kyuhyun. Aku mau kau mengganti peta ini,” ia menggoyang-goyangkan peta bersimbah darah dan bangkai nyamuk itu di hadapan muka Kyuhyun. Refleks, Kyuhyun berjengit dan menjauhkan wajahnya dari peta laknat tersebut.

Ia terkekeh kecil. Kyuhyun melotot. “Hanya ganti peta saja kan?”

“Aku belum selesai ngomong Kyu. Kau juga harus membayar biaya pesawat kita ke Eropa.”

Mata coklat Kyuhyun melebar. Syok. “Kau gila! Kenapa harus aku yang bayar?” teriaknya tak terima. Siwon mengelap wajahnya yang tanpa disadari oleh Kyuhyun menjadi korban ‘hujan lokal’nya barusan.

“Kamu pikir ini gratis apa? Lagipula uang kan tidak ada apa-apanya bagimu. Tiket pesawat ke Eropa hanya hal kecil bagimu kan?” katanya seraya tersenyum.

Kyuhyun masih melotot. Cowok ini… Apa dia mencoba memelorotiku?

Kyuhyun mengangkat satu tangannya yang bebas. “Sialan. Oke aku bayar, tapi lepaskan dulu tanganku.”

Senyuman Siwon semakin melebar. Ia memeluk Kyuhyun dengan erat. “Thanks!”

Yang dipeluk memukul punggungnya dengan keras. “Lepaskan aku, Kuda! Aku tidak bisa bernafas!”

Ia melemparkan senyum minta maaf. “Maaf, aku terlalu terbawa suasana.” katanya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Kyuhyun memutar matanya dan mendengus, seolah berkata ia tak percaya dengan ucapan Siwon yang dibalas dengan senyum lagi. Kyuhyun berharap Siwon tidak sekuat itu jadi ia bisa menonjok Siwon dengan leluasa tanpa takut ditonjok lebih keras. Duh, evil begini ternyata penakut ya?

“Kita mau kemana? Jangan bilang kau tidak tahu.”

“Hmm? Kemana? Kau mau kemana dulu?”

“Kan kau yang ngajak pergi, bego!”

Well, jujur saja aku juga tidak tahu enaknya kemana dulu…”

Kyuhyun mendecak dan memukul bahu Siwon keras. “Kau ini bagaimana sih! Kau mau buat kita tersesat di belantara Eropa?”

“Tidak, lagipula kita ‘kan punya peta.” katanya, tangannya mengelus bahunya yang kesakitan karena dipukul Kyuhyun tadi.

Kyuhyun memutar matanya. “Ini bukan acara Dora the Explorer, tolol. Jangan samakan petualangan kita dengan acara anak-anak bodoh itu.” Siwon menatapnya dengan aneh, yang langsung dibalas ketus dengan “apa lihat-lihat?” oleh Kyuhyun.

“Bukannya kau suka acara itu? Aku bahkan sering mendengarmu menyanyikan theme song-nya saat mandi.”

Wajah pucat Kyuhyun langsung dirayapi oleh warna merah. “A—itu bukan aku! Kau saja yang salah dengar. Bisa saja itu Yesung atau Kangin.”

Ekspresi Siwon berubah menjadi tidak percaya. Demi barbel-barbelnya yang cantik, ia bersumpah kalau suara yang ia dengar tiap pagi di kamar mandi itu benar-benar suara Kyuhyun! Namun apa buktinya? Lagipula ia belum pernah mendengar Kyuhyun menyanyi, jadi ia mengangkat bahu dan memutuskan untuk melepaskan masalah itu.

“Apa katamu lah. Aku baru ingat kalau kamar mandi Kangin sedang dalam perbaikan.” kata Siwon memasang pose sok berpikir.

Kyuhyun yang sedari tadi menahan nafasnya akhirnya bisa bernafas lega. Ia memasang senyumnya—sesuatu yang jarang ia lakukan—dan kembali berbicara, “aku pikir aku akan memilih Inggris.”

Siwon mengedipkan matanya tak percaya. Inggris? “Kenapa?” Ia pikir anak ini akan memilih sesuatu yang tidak umum. Seperti… Rusia misalnya, atau negara-negara Skandinavia seperti Swedia dan Islandia.

“Aku dari dulu ingin kesana,” katanya seraya mengedikkan bahu. “Lagipula banyak tempat bersejarah yang bisa kita kunjungi.”

Ia mengangguk mengerti mendengar alasan Kyuhyun. Masuk akal. Inggris memang memiliki banyak tempat yang tak hanya bersejarah namun juga menarik dan…berhantu. Bibirnya membentuk seringai tipis.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun yang merasa terganggu dengan seringai Siwon. ‘Seperti seringai werewolf’, pikirnya. Ah, memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya tegang!

“Tak apa,” jawabnya singkat. Ia tersenyum lagi, kemudian mengeluarkan telepon genggamnya dari kantong celana celana kargonya. Jemarinya nampak lincah menyentuh layar telepon genggam dan beberapa menit kemudian ia kembali memasukkan benda elektronik tersebut ke dalam kantong lalu tersenyum lagi.

“Kau kenapa sih, senyam-senyum daritadi? Kordinasi otot wajahmu rusak ya?” tanya Kyuhyun yang merasa terganggu dengan senyuman Siwon.

“Tidak.” Senyum itu lagi! Kyuhyun yang sudah muak mengerang dan mengambil bantal dari tempat tidurnya lalu melemparnya ke muka Siwon. Alih-alih marah, lelaki berumur 22 tahun itu hanya tertawa dan balas melempar bantal ke wajah pemuda yang lebih muda darinya itu.

“Omong-omong, kapan kita berangkat?” tanya Kyuhyun. Bantal yang tadi mereka gunakan untuk lempar-lemparan sekarang berada di pahanya.

“Besok jam 12.30.” jawabnya kalem.

Kyuhyun mendelik. “Kau pasti bercanda,” gumamnya tak percaya. “Aku bahkan belum bilang orangtuaku!”

“Bilang sekarang sana.”

“Mereka tak akan memperbolehkanku!”

Bitch please,” Siwon memutar matanya kesal.”Kau sudah 19 yang berarti kau adalah orang dewasa yang legal secara hukum.”

Ia menggeleng kuat. “Kau tak mengerti, orangtuaku tetap akan membunuhku.” Rasa dingin mulai merayap dari tengkuknya lalu turun hingga ke punggung dan kemudian menyebar ke tangan dan juga kakinya. Orangtuanya cukup protektif terhadap dirinya, dan jika mereka sampai mengetahui ‘acara jalan-jalan’ mereka—well, mereka akan menggantung Siwon. Atau malah menikahkan mereka berdua?

Menikah? Ih!

“Kau ini kenapa sih? Kau sendiri ‘kan yang bilang ingin ikut.”

Kyuhyun menelan ludahnya, tangannya meremas kemeja putihnya yang sudah lecek. “Memang.”

“Jadi… Kau ikut atau tidak?”

“Aku ikut. Tapi jangan salahkan aku kalau ayahku mengetahui ini dan menggantungmu di pohon pisang.”

Siwon hanya tersenyum tipis. “Pria tua yang tidak bisa mengontrol pipisnya mana bisa menggantungku di pohon pisang.”

Dan otomatis tangan Kyuhyun mendarat dengan keras di pipi Siwon.


Kyuhyun sedang memasukkan baju-bajunya ke sebuah koper besar berwarna hitam saat Siwon tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya dan menganga heran. Ia menunjuk-nunjuk kopernya seolah koper itu berisi bom TNT. “Kenapa kau bawa koper?” katanya dengan nada tinggi.

Alis Kyuhyun terangkat heran, “Memang aku harus bawa apa? Peti?”

Kepalanya menggeleng cepat, membuat rambutnya yang acak-acakan semakin acak-acakan. “Bukan, pakai backpack.”

“Tas punggung? Mana muat!”

“Bukan tas punggung yang ituu.” katanya sembari menepuk jidatnya. Kyuhyun memberinya tatapan tidak mengerti. “Lalu?” Sungguh ia bingung. Setahunya tas backpack paling banter muat untuk laptop 14″.

Siwon berlari ke kamarnya, kemudian kembali ke kamar Kyuhyun dengan menggeret sebuah tas punggung yang nampak seperti guling, namun dengan resleting di beberapa bagian dan tali bahu. “Nah, ini yang kumaksud.” kata Siwon sambil menepuk-nepuk tasnya bangga.

“Nggak berat tuh?” tanya Kyuhyun, matanya dengan teliti mengobservasi tas tersebut, mengingat setiap detail yang ia punya.

Siwon tertawa pendek. “Ya berat lah, makanya bawa barang seperlunya saja.”

Kyuhyun mengangguk, lalu bertanya lagi, “Kalau barangku tidak cukup disitu bagaimana?”

“Memang kau mau bawa apaan? Peralatan kecantikanmu kan bisa beli disana.”

“Sialan! Aku bukan Heechul atau Ryeowook yang suka pakai make up!”

Siwon—lagi-lagi—tertawa sambil menghindar dari pukulan ganas Kyuhyun. “Santai saja mbak!”

Kyuhyun memajukan bibirnya dan melipat tangannya di depan dadanya. “Cih, jaga mulutmu.”

“Tenang saja, pasti cukup kok Kyu.”

“Aku harap.” gumamnya sambil melirik tumpukan pakaian dia atas tempat tidurnya yang belum sempat ia masukkan ke dalam koper. Siwon nyengir kemudian berdiri dari duduknya. “Aku juga belum selesai membereskan barang. Yasudahlah, selamat malam Kyu.”

Dan kamar pintunya tertutup sebelum ia sempat mengucapkan balasannya.

Kyuhyun mendesah dan melirik ke backpack berwarna biru tua yang ditinggalkan Siwon di kamarnya. ‘Apa yang harus kulakukan dengan tas ini?’ pikirnya bingung.

Ia menarik tas itu untuk mendekat ke arahnya. Awalnya hanya memegangnya saja, tetapi terus berlanjut ke menciumi harum tas tersebut, membuka tiap resleting yang ia bisa temukan lalu memeluknya erat.

“Hmm, empuk juga. Apa kujadikan guling saja ya?”


A/N: Thanks to you all, cerita ini yang rencana aslinya nggak akan lebih dari 300 kata/chapter jadi meluber ke 1,000+ :v ya, makasiih banget. Makasih, makasih, makasih*jadipolisitidur*. Kira-kira ada yang bisa nebak benda apa yang akan ahjussi pake? Atlas udah, backpack udah, terus lanjutannya apa? Yang bisa nebak ahjussi kasih boxer-nya abang Kuda. Lawl.

Terimakasih untuk semua yang udah ngereview+alert+favourite fic ahjussi. Nggak nyangka aja fic seuprit ini bakal dapat sambutan yang sangat antusias dari fandom Screenplays. 4 favourite bo, 4 favourite! Omona, omona! Yassalam, yassalam! *hebohsendiri*

Yah, akhir kata, terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca dan mereview fanfiksi ini. Ahjussi teh orangnya selow, abis baca langsung minggat gak apa, komen boleh lah, kritik ya monggo, bash yah… terserah sih, asal jangan ngebash pair-nya aja. Situ komen sekedar “lanjut” aja udah jadi motivasi untuk ahjussi untuk tidak menelantarkan fic ini kok.

Kok jadi banyak bacot gini sih. Ah, sudahlah.

Salam tidak gaul,

Ahjussi gagal ganteng.


P.S: ada yang kecewa dengan teaser hari ini ga? Padahal ahjussi ngarep hari ini yang keluar WonKyu loh!

The reason why Korean WonKyu shippers call WonKyu as 션규 (SyunKyu)

okay this is pretty interesting. Korean WK shippers call Wonkyu as Syunkyu.. But why? I can’t understand Viet!

LucHuong

Các WonKyu shipper không phải người Hàn (như chúng ta :D) thường hay gọi Siwon + Kyuhyun là WonKyu, tuy nhiên WonKyu shipper người Hàn thường gọi là SyunKyu/SyeonKyu (tiếng Hàn viết là 션규) thay vì WonKyu. Nguyên nhân viết như vậy là vì 션 (đọc là syun/syeon) là tên gọi tắt của Siwon (để đọc cho nhanh), còn 규 thì là Kyu (chữ này thì dễ rồi nhỉ).

Do đó 션규 = 션 + 규 = Siwon [Syun/Syeon] + Kyu

Credit: choidings @ tumblr.com

Viet trans by LucHuong

View original post